Momentum Hari Bumi, Hari Kartini, dan Hari Autisme pada bulan April lalu dimanfaatkan oleh pegiat diseluruh dunia. Pun para pegiat dari komunitas Bogor. Mereka meluncurkan beragam aksi. Energi yang besar dikeluarkan untuk manfaat yang lebih besar sesuai gagasan masing-masing.

Selama beberapa tahun bergiat dan mengamat, saya menemukan suatu kecenderungan. Bahwa ada sebagian kumpulan pegiat (baca: komunitas) yang bertahan dalam jangka lebih panjang. Tiga, lima, bahkan sepuluh tahun. Bagaimanakah komunitas-komunitas hebat tersebut mampu untuk terus ikut andil? Berikut empat faktor yang saya amati:
C – A – R – E.

1. Cermat meramu gagasan yang ‘wow’
Bahkan, komunitas kaliber dunia seperti La Leche League (google it yourself, ya!) berhasil menampilkan visi yang ringkas: setiap ibu bisa menyusui. Gamblang, sederhana, dan ‘wow’. Hal yang sama saya ikuti pada sebagian komunitas yang punya gagasan apik. Alih-alih terus mengandalkan penggerak yang kian menua, mereka beradaptasi dengan zaman dari akar gagasan ‘wow’ yang terus dikembangkan.

2. Ajak tetangga untuk ikut andil
‘Tetangga’ yang saya maksud adalah semua pihak yang memiliki kepentingan. Dulu, sekarang, ataupun nanti. Keterlibatan mantan pegiat, calon pegiat, tokoh masyarakat akar rumput, media lokal, dan pemerintah cukup dibutuhkan. Sebab bagi saya, mereka adalah pihak ‘tetangga’ yang dapat memberikan x-factor penting dalam menumbuhkembangkan gagasan dan gerakan komunitas. Tentu andil yang diminta disesuaikan proporsinya, ya.

3. Rutinnya aksi berfaedah
Saya pernah membangun kerjasama dengan satu komunitas baru (belum setahun berdiri) yang telah meluncurkan aksi besar  perdananya. Tagar diramaikan, e-flyer disebarkan, dan pembicara dihadirkan. Aksi itu berjalan sukses. Namun, setelah event perdana tersebut tampak penurunan eforia. Pertemuan makin jarang dan pegiat aktif berkurang. Hingga akhirnya sampai sekarang mereka vakum.

Sebetulnya, setiap orang punya kadar bosan, yang mengakumulasi dalam dirinya setelah sekian lama jenuh melakukan sesuatu. Demikian pula komunitas. Selain aksi terjun ke masyarakat, perlu ada rutinitas our-time yang berfaedah. Bisa saja tiap bulan, tiap dua bulan, atau bahkan lebih. Our-time ini disiapkan untuk mengisi ulang semangat bergiat para pegiatnya.

4. Evaluasi luar dalam
Inilah yang saya rasakan perlu menjadi konten dari aksi rutin berfaedah. Kata pepatah, semakin tinggi pohon semakin kencang angin menerpa. Maka pohon komunitas juga perlu semakin bersiap menguatkan akar gagasannya untuk menghadapi angin-angin yang akan menerpa. Caranya, tidak lain dan tidak bukan adalah: evaluasi. Kata pepatah yang kedua: sekali layar terkembang, surut kita berpantang. Majulah, rekan-rekan. Semoga gerakan terus dikuatkan dengan niat kebaikan. Pepatah ketiga: dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Tetaplah mawas diri dalam berkarya, niscaya ketenangan hati meliputi.

Salam,

Ibnu Djula