Beberapa tahun ini, saya sedang asyik bermain di dunia komunitas. Tanpa sadar terkadang kita ini masuk ke dalam komunitas. Ya, kita ini pasti jadi bagian dari komunitas. Komunitas sendiri, menurut Crow dan Allan itu terbagi tiga:

  1. Komunitas yang terbentuk karena satu wilayah, satu daerah.
  2. Komunitas yang terbentuk karena satu hobby, atau minat.
  3. Komunitas yang terbentuk karena komuni, atau karena satu ide yang dapat mendukung masyarakat itu sendiri.

Kalau kamu komunitas yang mana? : )

Kebetulan sekarang saya aktif di Bogor Ngariung yang merupakan wadah #KomunitasBogor pegiat perubahan. Bisa dikatakan komunitas-komunitas di Bogor Ngariung terbentuk karena memiliki ide untuk perubahan. Luar biasa ya kawan-kawan #KomunitasBogor? Dan yang menarik, setiap komunitas itu memiliki banyak masalah yang berbeda-beda, dari mulai pendanaan, publikasi dan regenerasi. Lalu, apakah Humas atau PR (Public Relation) bisa memecahkan masalah tersebut?

Sebelumnya, kenapa saya membahas ini dari sudut pandang PR? Ya karena kebetulan saya merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Djuanda, Bogor.

Pendanaan, publikasi, dan regenerasi merupakan beberapa masalah yang menyebabkan komunitas timbul tenggelam, bahkan ada yang tenggelam dan tidak timbul lagi. Regenerasi merupakan masalah yang jelas menjadi faktor utama komunitas itu tenggelam, karena ya mana bisa komunitas itu jalan kalau tidak ada penerusnya. Idealnya, komunitas baru bisa dianggap stabil bila sudah berusia 5 tahun lebih.

Regenerasi bisa saja tidak berlanjut karena ketika oprec (open recruitment) hanya sedikit peminatnya. Hal itu bisa terjadi karena:

  1. Penyebaran pesan yang kurang tersebar sehingga hanya sedikit orang yang terpapar informasi. Jadi, usahakanlah gunakan media yang sesuai dengan target calon anggota yang mau kita ajak. Kalau kita menargetkan ke siswa/i SMP, ya kita harus paham betul media apa yang mereka gunakan. Begitupun seterusnya untuk siswa/i SMA, mahasiswa dan lainnya. Kita harus tahu betul apa yang mereka gunakan. Sederhananya, apa yang bisa kita gunakan untuk bisa menemui mereka.
  2. Kurang informatifnya pesan yang kita sampaikan, kadang orang tidak begitu paham kita ini siapa, komunitas apa, apa kegiatannya, dimana kegiatannya, dan yang dibutuhkan itu orang dengan kompetensi apa. Hal-hal itulah yang terkadang menjadikan orang bingung akan bentuk informasi yang kita berikan, sehingga informasi kita diabaikan begitu saja, seperti pesan saya ke dia, di-read aja. Eh, maaf curhat. Hehe.
  3. Hanya memanfaatkan media online. Tidak bisa dipungkiri media online sekarang sangat digandrungi oleh banyak anak muda. Ya, itu benar. Tapi apakah kita tahu bahwa dalam satu detik saja di dunia online, setiap orang akan terpapar ribuan informasi. Sehingga kita overload informasi dan bertindak selektif dini, atau menjadi sangat pemilih sebelum mendalami informasi tersebut. Oleh karena itu, kegiatan offline dengan langsung menemui target sasaran, berbincang langsung, dan diskusi juga sebaiknya kita lakukan, baik itu di tempat keramaian, atau juga di tempat secara khusus. Memang kegiatan ini akan mengeluarkan lebih banyak tenaga, namun Insya Allah kita akan langsung mendapatkan feedback dan bisa bertambah jejaring. Ingat, jejaring itu bukan hanya orang yg menerima di waktu sekarang, melainkan juga orang yang baru kita kenal dan bisa saja memberikan keuntungan di waktu mendatang.
  4. Publikasi yang dilakukan secara besar-besaran dalam waktu cepat. Itu baik. Namun, sebaiknya juga dilakukan kegiatan komunikasi yang rutin: harian, mingguan, atau juga bulanan. Kita perlu aktifkan media sosial dan aktif berhubungan dengan media sebagai wujud menanam investasi yang baik. Dengan begitu, pelan-pelan orang akan tahu dan sadar akan kehadiran kita. Kita juga secara perlahan menumbuhkan hasrat yang baik kepada orang lain dan kita perlu terus menjaganya, agar orang tersebut bisa sampai ke tahap action atau mengambil sikap untuk bergabung dan menjadi loyal. Di Bogor sendiri, Bogor Ngariung mengupayakan kerja sama dengan media untuk memperkenalkan kegiatan dan gerakan komunitas agar dikenal dan menginspirasi banyak orang. Sekarang, Bogor Ngariung sedang kerja sama dengan dua media, yakni media online dan radio. Silakan dimanfaatkan.

 

Robby Firliandoko