“Memikirkan Indonesia? Tentu siapa pun boleh-boleh saja. Tak ada siapa pun yang bisa melarangnya. Apalagi jika memikirkan demi kebaikan dan kemajuannya,” papar Ka Indri Guli.
Walau pada kenyataannya, terutama akhir-akhir ini, muncul beberapa potret buram di beberapa sudut yang senyatanya ada pihak-pihak tertentu yang tampaknya selalu sibuk untuk mengadu domba masyarakat, memecah belah bangsa dengan menyebar fitnah dan berita bohong.

Bahkan ada pula pihak yang lebih keji lagi, yakni ingin melenyapkan nyawa manusia Indonesia melalui bom bunuh diri yang—tak habis pikir—dilakukan oleh seorang ibu dengan mengorbankan anak kandungnya yang masih kecil.

Sementara di sudut lain, ada sebuah potret yang amat menenteramkan dan membahagiakan. Ada sekelompok anak muda yang memilih untuk berbuat demi kebaikan Indonesia.

Mereka merasa terpanggil. Secara diam-diam mengikhlaskan dirinya untuk bersumbangsih kepada negeri tercintanya.
Mau meluangkan waktu, tenaga, kemampuan serta biaya dari koceknya serndiri. Itulah mereka yang tergabung di komunitas Berkawan Indonesia, Swapiness dan Kertas Quiling.

Ketiga komunitas ini, yang disinergikan oleh Ka Indri dan Ka Mia, saling mengeratkan pelukan. Bersama-sama saling bahu-membahu membuat kegiatan yang amat mulia, dengan segenap potensi yang dimilikinya.
Mereka ke luar masuk perkampungan kumuh, bahkan desa tertinggal, untuk sekadar berbagi. Ya, hadir menjadi semacam pemantik semangat bagi warga kelas bawah untuk tetap bisa memelihara harapan.

Tentu ketiga kelompok komunitas anak-anak muda ini bukanlah para pakar-pakar hebat terkenal yang sering tampil di televisi atau tampil di seminar-seminar internasional di hotel berbintang. Tidak menyibukkan diri sebagaimana Soekarno, Hatta dan semisalnya yang berkutat memikirkan dasar konstitusi negara. Apalagi sibuk ingin mengubah dasar konstitusi negara.

Jauh. Amat jauh hal itu dari benak mereka. Mereka bukan makhluk yang serba muluk-muluk. Hanya ingin ada perubahan kecil saja. Memelihara harapan.

Di lingkungan terkecil. “Bukankah segalanya bermula dari hal-hal yang kecil?” tutur Ka Indri lebih lanjut.

Seperti dituturkan oleh Ka Dita, dan diamini oleh Ka Dini, Ka Bela, Ka Widi, Ka Laras, Ka Dina, Ka Azizah, Ka Iqbal, Ka Tri dan Ka Ido, teman-teman muda yang tergabung di komunitas Berkawan Indonesia, Swapiness dan Kertas Quiling, hanyalah para muda-mudi yang lugu dan amat sederhana.
Melihat Indonesia dengan kacamata yang amat sederhana pula. Papar Ka Dita, “Kami cuma ingin menyaksikan adanya perubahan Indonesia ke arah yang lebih baik di hari esok. Kami semua tahunya ingin berbuat sesuatu yang nyata dan bermanfaat bagi Indonesia. Sekecil apa pun itu, sebisanya berusaha bersumbangsih bagi negeri tercinta ini. Itu lebih baik daripada tidak berbuat sama sekali.”

“Prinsip kita,” tegas Ka Dini menambahkan, “Tak ingin eksistensi kita sebagai anak muda disebut wujuduhu ka adamihi, keberadaannya seperti ketiadaannya.

Belum lama ini, ketiga komunitas itu bergabung dan bersinergi untuk berkegiatan di Cimahpar RW 5, Kota Bogor Utara. Di sebuah perkampungan di pinggiran Kota Bogor. Sebetulnya lokasinya tak begitu jauh dari istana kepresidenan yang tampak berdiri megah. Berjarak sekitar tiga kilo meter. Namun kondisinya amat jauh dari kemegahan istana.
“Kegiatan nyata kita di Cimahpar ini merupakan hasil sebuah refleksi diri. Hasil sebuah manifestasi dari keinginan yang kuat untuk turut membangun Indonesia,” ujar Ka Abuy,
“Masak iya,” lanjut Ka Abuy, “Berlokasi dekat istana negara tapi amat kontras kondisinya dengan istana yang megah?” demikian ungkapnya dengan memasang wajah penuh keheranan.

Kemudian, ketiga komunitas ini di Cimahpar mencoba berbagi pengetahuan dan kemampuannya. Kali ini baru fokus pada anak-anak kecil seusia SD dan anak belum sekolah. Selain memprakarsai taman baca untuk umum, masing-masingnya ada yang mengajari bahasa Inggris, menggambar dan mewarnai, berpuisi, origami dan membuat dompet untuk gawai.

Dan anak-anak kecil warga Cimahpar pun amat menyambut dengan bergembira kehadiran mereka.
Ditulis oleh: Erha Limanov
Foto: Dokumentasi Berkawan Indonesia