Banyak cara untuk mewujudkan rasa cinta kepada tanah air Indonesia, mempelajari dan melestarikan sejarah dan kebudayaan adalah salah satu perwujudan rasa cinta.

Bogor Historia, komunitas yang sudah bergerak hampir empat tahun ini berdiri atas dasar kesukaan jalan-jalan, kemudian mencoba fokus pada bidang sejarah dan kebudayaan. Yudi Irawan, inisiator yang memiliki ketertarikan pada bidang sejarah dan budaya. Ketertarikan itu berhasil mengalahkan rasa kurang percaya diri karena dirinya dan anggota lainnya bukan berlatar belakang mahasiswa ilmu sejarah. “Meski kami bukan mahasiswa sejarah, namun rasa ketertarikan dan rasa cinta Indonesia membuat kami ingin belajar.”

Rafik Maeilana, salah satu anggota Komunitas Bogor Historia sedang memperhatikan salah satu Tank Perang di Museum Peta.

Diskusi, menikmati kopi, mengkaji berbagai sumber literasi dan ngaprak di lapangan adalah kegiatan rutin yang dilakukan, hasilnyapun tidak main-main, Bohis sebutan akrab Bogor Historia sudah mencoba merekonstruksi benteng luar Kerajaan Padjadjaran, meskipun demikian, hal itu tidak membuat Bohis puas, masih ada rencana besar yang ingin dicapai, yaitu membuat website dan buku sejarah Bogor sebagai bentuk pengumpulan dokumentasi dan data sejarah Bogor. “Kami berharap buku dan website dapat menjadi media pembelajaran sejarah Bogor sejak dini,” harapan Eko Hadi, salah satu pengurus Komunitas yang sudah beranggotakan 50 orang ini.

Resha Bunai, Rafik Maeilana, Eko Hadi, Mande Jajar dan Yudi Irawan (anggota Bogor Historia)

Masih banyaknya situs dan sejarah Bogor yang belum terkuak menjadikan Bohis ingin terus berkarya, oleh karena itu Bohis juga mengajak masyarakat yang ingin bergabung dengan Bohis dan belajar bersama.

Kabar #KomunitasBogor Bogor Historia ini juga dapat disimak di Majalah Tren Bogor edisi bulan November tahun 2016

Salam,

Robby Firliandoko