Dua hari lagi, tepatnya tanggal 8 Maret 2018 Bogor Ngariung akan tepat berusia empat tahun setelah pada tanggal 8 Maret 2014, dimana pada hari itu menjadi agenda pertama Bogor Ngariung untuk Ngariung lalu dijadikan hari lahir.
Dengan bertambahnya usia dan juga sebagai wujud rasa syukur, selama empat tahun itu pula kita sama-sama belajar bahwa mulai dari empat tahun lalu komunitas di Bogor tidak lagi merasa sendiri dan tidak lagi selalu menyelesaikan masalahnya sendiri.


Kolaboraksi dan aksi bersama antara satu dan beberapa komunitas dalam memberikan kontribusi untuk Bogor merupakan alternatif baru selain hanya meminta atau bahkan memaksa perubahan itu dihadirkan. Dengan semangat gotong royong, kawan-kawan yang tergabung di Bogor Ngariung sama-sama memiliki rasa bersama untuk saling mengisi dan bekerja sama.
Dahulu, komunitas merasa sendiri, dan sulit mencari kawan untuk berbagi kepedihan dan menyelesaikan masalah. Hal ini merupakan hasil penelitian yang beberapa bulan ini sedang saya lakukan, dimana jejaring dan bertambahnya kawan menjadi faktor utama dari rasa kepuasan komunitas dan organisasi terhadap komunikasi organisasi Bogor Ngariung.


Tidak bisa dipungkiri, era yang semakin berkembang dengan perkembangan teknologi ini menandakan bahwa sifat kompetitif sudah tidak lazim lagi, melainkan kolaborasi yang menjadi jalan terbaik untuk saling menggapai kesuksesan.
Namun, dalam pesan inipula saya ingin kita sama-sama refleksikan diri dari apa yang kita cita-citakan dan apa yang sudah terjadi. Rasanya salah bila Bogor Ngariung adalah hanya milik beberapa orang saja, kita perlu sama-sama ketahui bahwa Bogor Ngariung adalah milik bersama. Selain itu, saya yang diberikan tugas sebagai koordinator juga beberapa kali mendapatkan dan mendengar kesulitan kawan-kawan dalam membangun sinergisitas antar sesama komunitas.

Foto bersama komunitas saat belajar tentang ilmu sejarah dan budaya di Pulo Geulis

Saya berharap Anda sepakat dengan pernyataan saya, bahwa sebenarnya kita sama-sama butuh bantuan dari orang atau komunitas lain, dan tidak merasa hebat sendiri, melainkan, beberapa kesulitan membangun sinergisitas tersebut hadir karena kendala-kendala lain.
Kalau boleh saya bercerita, komunikasi yang kurang efektif, padatnya agenda komunitas selama setahun ke depan, lalu komunitas hanya dijadikan penarik massa, dan masih ada beberapa yang merasa sendiri adalah beberapa masalah-masalah yang menyebabkan kesepakatan sinergisitas tidak berakhir manis.


Beberapa kali, kami selaku koordinator juga merasakan kesulitan membantu kawan-kawan komunitas dan juga pihak luar yang sangat berharap Bogor Ngariung dapat menghadirkan ribuan massa untuk mereka. Ya, tidak bisa dipungkiri memang hal ini jauh lebih banyak kami rasakan dari pihak luar yang sangat berharap demikian. Melalui tulisan ini, saya ingin coba memberikan penjelasan bahwa Bogor Ngariung adalah wadahnya, kemudian di dalamnya ada 99 komunitas dan organisasi pegiat perubahan di Bogor yang saling berjejaring, lalu memang Bogor Ngariung ada yang mengelola yang kami sebut tim koordinotor. Lalu, untuk melanjutkan penjelasan di atas, bahwa untuk kebijakan hadir atau tidak, banyak atau sedikit, itu adalah kebijakan masing-masing komunitas dan organisasi, dan sering kali kami harus jelaskan mengenai hal ini dan sambil mendengarkan kekecewaan dari mereka.

Komunitas Bogor sedang melakukan aksi tanam pohon.

Selain itu, saya sendiri khususnya masih sering merasa gagal ketika ada komunitas atau organisasi yang masih merasa sendiri dan tidak mengenal kawan-kawan lain, saya tidak mengerti, apakah memang dia tidak mengenal atau tidak memanfaatkan momentum-momentum acara bersama yang dihadirkan untuk berkenalan dengan yang lain, atau tidak memanfaatkan grup koordinasi untuk saling bertukar narahubung dan yang lainnya.


Saya berharap, sinergisitas yang diawali dari berjejaring dapat menjadi modal awal kawan-kawan untuk bersinergi dan saling membantu, sinergisitas akan semakin jauh meski jumlah anggota Bogor Ngariung semakin banyak ketika kita hanya datang dan pergi, tidak ingin mengenalkan diri dan tidak ingin mengenal orang lain.
Akhir kata, melalui tulisan ini saya ingin mengucapkan selamat ulang tahun yang ke-4 untuk Bogor Ngariung, semoga sinergisitas dan kebersamaan kita semakin baik dan bermanfaat.
Sudah bukan saatnya kerja sendiri, kini saatnya kerja bakti.
Jangan merasa sendiri, mari berkontribusi bersama-sama.
Salam,
Robby Firliandoko