Kopi darat Saudara Lintas Karya sukses dihelat di Ruang Dilo Wisma Menpora pada tanggal 26 Januari 2018 lalu. Kopi darat para pemuda dari berbagai macam latar belakang ini mendiskusikan tentang Fundraising Zaman Now.


Pertemanan yang diawali dari inisiasi Kang Taufan Akbari (Rumah Millennials) dan dr. Gamal Albinsaid (Indonesia Medika) di grup Whatsapp mendorong saudara lintas karya untuk kopi darat dan belajar bersama secara langsung. Atas inisiasi Greeneration Indonesia dan Filantropi Indonesia, kopi darat yang baru pertama ini sukses menghadirkan hampir 30 peserta dan empat pembicara yang sudah berpengalaman.
Bapak Timotheus Lesmana dari Filantropi Indonesia mengawali berbagi mengenai apa itu filantropi dan fundraising masa kini yang seharusnya dijalankan oleh kaum millennials. Filantropi Indonesia sendiri adalah organisasi keanggotaan untuk berbagi dukungan dan sumber daya secara sukarela yang didorong cinta kasih kepada sesama untuk mengatasi masalah sosial. Pak Timi menjelaskan, bahwa konsep pengembangan dana saat ini sudah tidak lagi menerima proposal dan dengan model sponsorship. “Filantropi tidak menerima proposal dan sponsorship, ke depan kita harus kreatif dengan mengembangkan potensi yang kita punya lalu apa yang diberikan orang lain kepada kita harus bermanfaat untuk orang banyak.”

Bapak Timo dari Filantropi Indonesia sedang menjelaskan Fundraising Zaman Now. (Foto: Indriguli)

 

Selain Pak Timo, Alfatih Kitabisa.com juga hadir untuk berbagi inspirasi mengenai pengalamannya menggalang kerja sama dan bantuan dari berbagai pihak untuk mengatasi masalah melalui plaform kitabisa.com. Alfatih Timur atau yang akrab dipanggil Mas Timi ini bercerita bahwa perkembangan Kitabisa.com berkat para pengguna yang telah menggunakan jasa kitabisa.com. Dari sana tim kitabisa.com terus belajar dan berkembang, dan ternyata fundraising dapat menggunakan beragam cara, beda masalah, beda industri pasti akan berbeda strateginya. Mas Timi juga menjelaskan bahwa kampanye yang sedang viral di kitabisa.com saat ini adalah bantuan-bantuan untuk masalah kesehatan, kemanusian dan hal yang unik. “Dari kampanye Pesawat Indonesia karya Bapak BJ Habibi kita dapat melihat bahwa fundraising zaman now tidak hanya bicara dapat seberapa banyak, melainkan juga menghadirkan traffic ke kampanye kita dan salah satunya dengan menggunakan endorser,” ujar Mas Timi.

Mas Timi, CEO kitabisa.com berbagi pengalaman tentang galang bantuan zaman now dan tentang perkembangan kitabisa.com (Foto: Indriguli)

Diskusi selanjutnya adalah oleh Kang Shafiq Pontoh yang menjelaskan perkembangan teknologi informasi terus berkembang, media pertemanan dan media berkomunikasi semakin banyak, dan membuat kita berfikir bagaimana caranya menyampaikan dan mengajak orang lain untuk ikut serta dalam kampanye kita, dan jawabannya adalah satu, dengan siapa kita bicara. Penentuan siapa penerima pesan kita akan memengaruhi melalui media apa yang efektif. Kang Shafiq juga berbagi pengalamannya saat bertemu dengan pelajar di Ambon yang ternyata menggunakan layanan Blackberry Messenger untuk berkomunikasi, karena mereka menganggap FB digunakan oleh orangtua dan belum dekat dengan sosial media lainnya. Selain itu, kita juga harus tahu mengenai target dari kampanye kita, apakah trending atau orang pada tahu? Karena terkadang angka itu hanya semu, semakin tinggi trending belum tentu mendapatkan hasil yang kita inginkan. Kang Shafiq juga mengajak kita untuk kreatif dalam menggunakan semua kanal, kita harus paham bagaimana cara berkomunikasi yang sesuai dengan pengguna kanal masing-masing tersebut. Narasi yang besar, jelas, dijalankan secara bertahap, dan mengetahui dampaknya apa adalah hal-hal yang mendasar yang perlu kita ketahui. Kemudian, Kang Shafiq juga menjelaskan bahwa meskipun saat ini sudah era digital, namun alat yang masih ampuh dalam menjalankan kampanye positif adalah 5w+1h. “Dimulai dari why atau kenapa, kita harus bisa menjelaskan masalahnya apa? Penting atau tidak? Lalu who, siapa yang mau mengerjakan dan untuk siapa, kemudian where atau dimana? Usahakanlah yang terdekat dan tidak melulu Indonesia bahkan dunia, lalu what atau mau mengerjakan apa dan bagaimana?” jelas Kang Shafiq Pontoh.

Kang Shafiq Pontoh berbagi pengalamannya tentang kampanye-kampanye yang telah dilakukannya dan pemanfaatan media. (Foto: Indriguli)

Diskusi yang sangat menarik dan bergairah itu semakin seru meski semakin malam, seluruh peserta yang didominasi oleh pegiat perubahan sama-sama menularkan energi positif seperti Kang Bijaksana Sano dari Greeneration Indonesia. Selain menjadi pencetus Kopdar pertama ini, melalui Kopdar 1.0 ini Kang Sano juga mengajak seluruh saudara lintas karya untuk sama-sama mengurangi sampah dan mensukseskan Indonesia Bebas Sampah 2020. “Isu sampah sebenarnya sudah lama namun minim perubahan, untuk itu kami butuh bantuan kawan-kawan untuk bergerak, agar semakin banyak yang bergerak dan Indonesia akan bebas dari sampah,” ajak Kang Sano di Kopdar pertama Lintas Karya.

 

Kang Bijaksana Sano dari Greeneration Indonesia menjelaskan isu sampah saat ini dan mengajak saudara lintas karya untuk mensukseskan #IndonesiaBebasSampah2020. (Foto: Indriguli)

Rasa bahagia karena dapat belajar bersama dan bertemu dengan kawan-kawan hebat dari Saudara Lintas Karya menjadi suasana yang terlihat di antara peserta. Saling berkenalan, bertukar pengalaman dan berharap adanya kolaboraksi setelah kopdar menjadi perbincangan-perbincangan yang khas antara sesama Saudara Lintas Karya. Bogor Ngariung juga mengucapkan terima kasih kepada Mas Taufan yang sudah mengijinkan perwakilan Bogor Ngariung untuk bisa berjejaring bersama Saudara Lintas Karya, semoga hal-hal yang bermanfaat dapat dibawa pulang ke Bogor dan menjadi buah tangan untuk kawan-kawan komunitas dan organisasi pegiat perubahan di Bogor.