Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar nama Katulampa? Pasti selalu teringat dengan nama Bendungan yang selalu menjadi sorotan ketika musim hujan tiba. Namun, kini Anda bisa juga mengenal sisi lain dari Katulampa, yaitu dari sekumpulan mantan jawara muda yang bernama Kompak. Komunitas Peduli Katulampa.

 
Ditemui di Saungnya yang berlokasi di RT 05 RW 09, Kelurahan Katulampa, Bogor Timur, Kota Bogor, Zainal Arifin yang kini menjabat sebagai Ketua Kompak bercerita tentang asal muasal Kompak yang didominasi jawara muda. Pada tahun 2012, kumpulan pemuda di wilayahnya membangun kelompok dengan nama Kamboja, kegiatannya tidak positif seperti saat ini, yaitu gemar tawuran, menenggak minuman keras dan juga taruhan.


Melihat kondisi tersebut, Yanuar, salah satu pemuda di sana gelisah dan khawatir akan generasi masa depan kampungnya. Kemudian Yanuar pada tahun 2014 mengundang seorang fasilitator bernama Kang Lutfi Kurnia atau yang akrab disebut Kang Uut untuk membangun kesadaran pemuda dan mengajak mereka membangun komunitas. “Awalnya kami males mendengar penjelasan Kang Lutfi, sama warga saja kami acuh, kami lebih sering tawuran dan mabok, tapi pelan-pelan kami mencoba mendengarkan dan melakukan,” ujar Zainal.


Zainal yang akrab disapa Enay menambahkan, awal-awal kegiatan di sana yaitu bersih-bersih dan mulai terasa ketika warga mendukung yang awalnya acuh kepada mereka. “Yang paling kerasa adalah dulu kita mencari uang dengan cara taruhan tawuran, kemudian sekarang banyak warga yang membantu dari mulai memberikan makanan, sumbangan buku, bahkan disediakan tempat dan saung untuk berkegiatan,” tambah pemuda yang pernah koma karena tawuran antar-pelajar.


Bagi Enay dan kawan-kawan Kompak, saat ini berkegiatan di kampung menjadi semakin semangat, meski capek, tapi mendapat senyum dari warga. Kegiatan menata kampung, bersih-bersih, hingga dipercaya oleh warga untuk mengelola acara 17-an dan Rajaban menjadi kegiatan rutin Kompak. “Alhamdulillah saat ini sudah punya saung, kami juga punya perpus yang dapat dimanfaatkan oleh siapapun, dan kegiatan mulung sampah dari warga dan di sungai demi mengurangi sampah di sungai tetap jadi program rutin kami setiap minggu,” tambah Enay.

 

Kini, Kompak tidak hanya dipercaya menata kampung, tetapi juga mencoba mengelola usaha untuk kemandirian Kompak. Dari mulai jualan kopi, baju, hingga karya kreatif dari bahan daur ulang seperti bingkai foto dan karya lainnya. “Saya berharap Kompak terus kompak dan bermanfaat, semoga usaha kami juga terus berkembang agar bisa menyambung hidup anak-anak Kompak yang didominasi anak-anak putus sekolah,” harap Enay.

 

Ditulis oleh:

Robby Firliandoko

Sumber foto: KOMPAK