Bogor – Koordinator Bogor Ngariung Robby Firliandoko memperkenalkan gerakan Komunitas Bogor di kegiatan forum diskusi The Jurasep Institute (TJI) yang mengusung tema “Komunitas: Kontribusi Tanpa Batas” di Saung Jurasep, Ciomas, pada Sabtu, (6/10/2018).

 

Di awal diskusi Robby yang hadir mewakili Tim Koordinator Bogor Ngariung menjelaskan bahwa menurut Sosiolog Soerjono Soekanto setiap individu memiliki dua hasrat, yakni hasrat untuk menyatu dengan masyarakat dan menyatu dengan alam. Atas dasar itu, hampir setiap individu bergabung pada grup masyarakat, baik itu grup formal maupun informal.

 
“Oleh karena itu hampir setiap individu bergabung di organisasi ataupun komunitas, dan di Bogor ada banyak sekali komunitas,” kata Robby.

 

Robby menambahkan, komunitas di Bogor sangatlah beragam jenisnya, sementara menurut Crow dan Allan, jenis komunitas dibedakan atas dasar proses terbentuknya. Pertama adalah komunitas yang terbentuk karena sama-sama berasal atau tinggal di suatu wilayah, kedua komunitas yang terbentuk atas dasar hobi yang sama dan ketiga komunitas yang terbentuk berdasarkan kesamaan ide.

 

 

“Sejak hadir pada tanggal 8 Maret 2014, komunitas dan organisasi yang tergabung di Bogor Ngariung hampir semua komunitas ide, atau pegiat perubahan yang bergerak melalui 8 bidang, yaitu pendidikan, lingkungan, sejarah dan budaya, sosial, literasi, pengembangan masyarakat, olahraga dan media dan komunikasi,” tambahnya.

 

 
Lebih lanjut, Robby menjelaskan bahwa kegiatan komunitas dan organisasi yang tergabung di Bogor Ngariung sangat bermacam-macam, dari mulai mengajar di daerah pra sejahtera, pelosok, membuat lapak baca dan perpustakaan, bersih-bersih kota hingga sungai, pelestari sejarah hingga pengembangan pemuda dan masyarakat. Komunitas Bogor merupakan kelompok pemuda yang tidak mengeluh atas ketimpangan dan masalah yang terjadi melainkan memiliki aksi nyata di bidangnya masing-masing.

 

 
Ketua Forum Diskusi (Rektor) The Jurasep Institute Ryan Dwi Anggara menjelaskan bahwa The Jurasep Institute merupakan forum diskusi yang sudah digelar sebanyak 12 kali dan berharap dapat memberikan sumbangsih ide ataupun solusi untuk Bogor. “Mimpi kami adalah dapat menghasilkan hasil diskusi yang bermanfaat, semoga 50 tahun lagi hasil diskusi di TJI dapat menjadi rujukan masyarakat dunia,” kata Ryan.

 

 

Sementara, Koordinator Offline Bogor Ngariung yang juga Wakil Presiden Komunitas Urang Bantu (Urban) Sakola Nurhuda Anwar ( Kang Ace) turut hadir dalam diskusi dan bercerita tentang pengalamannya bersama Urban Sakola yang beberapa kali mengadakan kegiatan pendidikan di sekolah dan kampung yang membutuhkan bantuan pendidikan. “Bersama Urban saya pernah mengajar di sekolah yang gurunya sedikit, wilayahnya sulit terjangkau dan ada juga yang fasilitasnya miris sekali, kemarin kami mengadakan kegiatan di daerah Leuwiliang Kabupaten Bogor, di sana sekolahnya ambruk dan siswa belajar di tenda,” jelas Ace.

 

 
Di akhir diskusi, Robby kembali menjelaskan bahwa yang menarik bukan hanya banyaknya komunitas, melainkan masih banyak pemuda-pemudi Bogor yang peduli dengan lingkungannya dan melakukan aksi nyata. “Semoga komunitas yang ada bisa terus ada, lalu bermuculan komunitas baru dan semakin banyak pemuda Bogor yang peka terhadap masalah di lingkungannya dan kotanya kemudian melakukan aksi nyata,” harap Robby.

 

 

Turut hadir dalam diskusi, Koordinator Online Bogor Ngariung Syaeful Bahri, Koordinator Fundrising Bogor Ngariung Ibnu Djula, Perwakilan Komunitas Inovasia Mirsad Awawin, Perwakilan Komunitas Puzzle Summit Oza, dan Perwakilan Komunitas Bogor Riot Dino.
Ditulis oleh: Robby Firliandoko
Foto: Syaeful Bahri