Sejak beberapa tahun belakangan, teduhnya lingkungan sangat terasa setiap kali Lulu Zakiah pulang kerumahnya di utara Kabupaten Bogor. Sudah menjadi rutinitas bagi pegiat komunitas lingkungan Sahabat Kepik ini untuk bertegur sapa dengan tetangganya. Kak Lulu, panggilannya, sangat menikmati keteduhan itu lantaran kebiasaan warga merawat kebersihan lingkungan sudah menjadi budaya.

Namun, keteduhan itu berkurang karena perilaku segelintir warga. Atas dasar kepraktisan, mereka menimbun sampah di depan kawasan tempat tinggal. Timbunan sampah itu persis di dekat drainase utama. Alhasil aliran air keluar dari kawasan tempat tinggal pun terhambat sampah dari timbunan itu.

Sembari tetap berupaya menjaga kesantunan, Kak Lulu dan tetangganya sesekali memberi teguran secara lisan setiap mendapati oknum penimbun sampah. Selain itu, timbunan sampah itu juga rutin mereka pindahkan ke tempat yang tepat. Besarnya modal sosial yang telah dibangun bersama (Bott, Ankel dan Braun 2019) meneguhkan gerakan komunitas di kawasan tempat tinggal itu.

Upaya teguran berkali-kali itu pun, belum berhasil. Timbunan sampah tetap ada.

Upaya lain ditempuh Kak Lulu dan warga. Belajar dari perilaku oknum yang berhenti jika diberi teguran, mereka memasang plang bertuliskan kalimat teguran persis di pusat timbunan. Harapannya tumbuh kesadaran kolektif para oknum supaya berhenti menambah timbunan sampah. Ternyata, upaya ini menunjukkan hasil. Timbunan sampah tidak lagi diletakkan di plang tersebut.

Alih-alih, timbunan sampah bergeser beberapa meter dari plang.

Ketika hujan memuncak pada awal 2020, kawasan tempat tinggal Kak Lulu kebanjiran. Kurang dari setengah hari, air langsung masuk kedalam rumah warga. Di dalam rumah Kak Lulu, air merendam motor. Lemari makan dan isinya ambyar. Mobil-mobil tetangga berenang-renang ditengah banjir. Sebagian terbalik, lainnya menghantam benda-benda disekitarnya. Beramai-ramai, warga pun saling berbagi kebutuhan pokok. Syukurlah, bantuan juga datang dari warga luar yang tidak terdampak.

Thanvisitthphon et al (2019) memaparkan bahwa modal sosial merupakan faktor kesuksesan adaptasi kawasan berisiko banjir. Ini ditunjukkan Kak Lulu dan tetangganya yang sadar. Mereka memilah sampah, mendelegasikan pengolahannya ke tukang sampah, dan senantiasa mengingatkan segelintir oknum yang belum paham. Akan tetapi, perlu kepatuhan seluruh warga untuk mencegah bencana, seperti dikemukakan Liang et al. (2016). Nyatanya, upaya Kak Lulu dan Warga yang sadar belum diamini seluruh warga.

Kini, pada skala yang berbeda, kita mengalami situasi yang mirip dengan pencegahan banjir di kawasan tempat tinggal Kak Lulu. Wabah Korona sudah ditetapkan menjadi Bencana Nasional. Akankah arahan pemerintah sebagai upaya mencegah merebaknya wabah dipatuhi kita semua?

Penulis: Ibnu Djula