Sebagai wadah komunitas se-Bogor Raya, Bogor Ngariung ingin memperkenalkan komunitas-komunitas yang ada didalamnya lewat profil komunitas. Kali ini, kami membahas sebuah komunitas yang peduli dengan anak-anak disabilitas yang dikenal dengan nama Komunitas Satu Atap (KSA).

Berawal dari lima pemuda yang ingin melakukan pengabdian masyarakat di tanah Sulawesi maka terciptalah sebuah komunitas pendidikan sosial pada tanggal 21 Maret 2017 yang eksis hingga saat ini yang bernama Komunitas Satu Atap (KSA). Komunitas Satu Atap merupakan sebuah komunitas di bidang pendidikan yang fokus utamanya yaitu menghilangkan tindak diskriminasi terhadap anak-anak disabilitas dengan cara mengkolaborasikannya dengan anak-anak normal.

Latar belakang terbentuknya Komunitas Satu Atap ini cukup menarik yaitu dimulai dengan lima pemuda yang terdiri dari Dinda, Tija, Halil, Aisyah, serta Icin yang ingin melakukan sebuah eksperimen sosial berupa pengabdian masyarakat. Kelima pemuda yang kelak menjadi founder dari KSA ini mencari satu sekolah sebagai lokasi untuk melakukan pengabdian tersebut. Menariknya, mereka terkejut karena di salah satu Sekolah Dasar (SD) tersebut terdiri dari siswa SD dan siswa SLB yang melakukan proses pembelajaran secara bersamaan tanpa sekat pemisah. Sejak saat itu mereka menyebutnya sebagai sekolah satu atap dan menjadi sebuah filosofi mengapa dinamakan Komunitas Satu Atap.

Ikhtiar kelima pemuda tersebut ternyata tidak selesai begitu saja. Berkat pengabdian tersebut mereka berhasil meraih penghargaan dalam sebuah Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional tahun 2017. Atas pencapaian tersebut dan tentunya di dorong oleh hasrat jiwa sosial yang tinggi, Komunitas Satu Atap (KSA) mulai mengembangkan sayap-sayap kebaikannya di luar Sulawesi, seperti Bogor.

Komunitas Satu Atap (KSA) memiliki struktur organisasi yang lengkap mulai dari Pembina, Ketua, Sekretaris dan Bendahara. Komunitas Satu Atap juga memiliki 5 bidang yang terdiri dari :
1. Human Capital Development
2. Public Relations
3. Media Strategis
4. Research and Development
5. Digital Marketing

Bentuk kegiatan yang dilakukan oleh Komunitas Satu Atap ini yaitu dengan mengajak anak-anak disabilitas ke Sekolah Dasar (SD) anak-anak normal ataupun sebaliknya. Komunitas Satu Atap memfokuskan kegiatannya selama 4 pekan. Pekan pertama biasanya diisi dengan pengenalan-pengenalan, pekan kedua dan ketiga diisi dengan kegiatan berupa games menarik yang tentunya mengedukasi serta melatih kreativitas para siswa, serta pada pekan keempat Komunitas Satu Atap melakukan evaluasi kegiatan.

Dalam perjalanannya menanam benih-benih kebaikan, Komunitas Satu Atap bukan tidak memiliki hambatan. Mereka biasanya dihadapkan pada permasalahan sulit mencari sumber daya manusia yang berniat meluangkan jiwa sosialnya pada anak-anak disabilitas. Menyiasati hal itu, Komunitas Satu Atap melakukan Open Recruitment atau Pendaftaran Relawan setiap satu tahun sekali lewat akun sosial media mereka. Tidak ada kriteria khusus dalam persyaratan karena yang terpenting yaitu memiliki jiwa sosial dan siap berkontribusi dalam kegiatan Komunitas Satu Atap.

Selama Pandemi Covid-19 melanda bumi pertiwi, Komunitas Satu Atap tetap hadir sebagai sebuah pilar sosial bagi anak-anak disabilitas. Komunitas Satu Atap juga melakukan beberapa kegiatan seperti membuat Podcast, Webinar, membuat dan menyalurkan donasi yang berhubungan dengan bidang KSA.

Adapun rencana agenda yang sedang digarap yaitu membuat sebuah buku yang berisikan tulisan-tulisan dari para relawan KSA selama masa pandemi serta membuat sebuah kegiatan berupa Home Visit atau mengunjungi rumah para anak-anak disabilitas untuk melakukan pendampingan serta memberikan santunan karena tidak bisa melakukan proses pembelajaran dirumah dengan baik karena terkendala ekonomi.

“Perbedaan diciptakan agar kita belajar lebih baik lagi mencintai sesama karena tidak ada yg sempurna.
Kenapa diskriminasi harus ada pada sebuah perbedaan sedangkan pelangi saja terlihat indah karena perbedaan warnanya.
Maka dari itu mari kita bersama sama berkolaborasi bersama untuk menghilangkan tindak diskriminasi.”

Kak Dinda

Penulis : Badrul Kamal
Editor : Fikry Hawali